Kebocoran Radiasi di jepang Lebih Besar

Para pekerja di fasilitas penyerap sesium di gedung pengolah sampah radiasi terpusat di PLTN Fukushima Daiichi, Kota Okuma.

 TOKYO– Kebocoran radioaktif di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Jepang ternyata dua kali lebih besar daripada perkiraan awal.

Keterangan itu diungkapkan Badan Keamanan Industri dan Nuklir (NISA), lembaga pengawas independen.NISA menjelaskan, saat ini ada 770.000 terabecquerel yang bocor ke atmosfer pada pecan pertama pasca-gempa bumi,dibandingkan perkiraan awal 370.000 terabecquerel. Temuan itu dirilis pada kemarin malam, menjelang pertemuan pertama panel 10 pakar dan akademisi independen NISA.

“Tenaga nuklir memiliki kepadatan energi tertinggi dan berbahaya. Sebuah kesalahan jika menganggapnya aman,” papar Ketua NISA Yotaro Hatamura yang juga peneliti human error di Universitas Tokyo, kemarin, seperti dikutip AFP. Meski jumlah tersebut hanya 15% dari total radiasi yang dilepaskan di Chernobyl,Ukraina, pada 1986, data terbaru ini menegaskan bahwa kontaminasi di sekitar PLTN lebih buruk daripada perkiraan awal.

Data baru NISA mirip dengan laporan Komisi Keamanan Nuklir (NSC) yang juga lembaga independen bahwa kebocoran radiasi mencapai 630.000 terabecquerel pada bulan pertama. Revisi yang dilakukan tiga bulan setelah gempa bumi dan tsunami itu akan menyulut kecaman baru terhadap pengelola PLTN Fukushima, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), dan Pemerintah Jepang yang dinilai lambat memberikan informasi.

“Di yakini ada banyak bahan bakar nuklir di dalam tiga reaktor yang meleleh lebih cepat dari dugaan sebelumnya, setelah gempa bumi menghentikan sistem pendingin PLTN,” papar laporan NISA. NISA menjelaskan, bahan bakar nuklir yang meleleh di unit reaktor satu, jatuh ke bawah ruangan bertekanan dan kerusakan terjadi lima jam setelah gempa bumi pada pukul 14.46 pada 11 Maret,diikuti gelombang tsunami 14 meter.

“Kejadian serupa ada di unit reaktor dua pada pukul 10.50 pada 14 Maret, dan reaktor nomor tiga mengalami kerusakan pada pukul 10.10 pada 14 Maret,”ungkap laporan NISA. Pakar Jepang menekankan, sebagian besar radiasi dilepas pada hari-hari pertama setelah gempa bumi, saat terjadi serangkaian ledakan hidrogen di PLTN itu. Radiasi itu bergerak di penjuru Samudra Pasifik, tidak di daerah berpenduduk.

Penasihat khusus krisis nuklir Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan,Goshi Hosono, menjelaskan, temuan-temuan terbaru tidak akan memengaruhi rencana TEPCO menstabilkan seluruh reaktor pada Oktober-Januari. TEPCO meyakini, bahan bakar nuklir yang meleleh kini sedang didinginkan dengan air di reaktor nomor 1,2,dan 3.Mereka juga menyatakan rendahnya suhu di luar kontainer.

Beberapa bulan operasi pemulihan reaktor menghasilkan lebih 100.000 ton air radioaktif tinggi di gedung-gedung,ruang bawah tanah, dan terowonganterowongan di PLTN. TEPCO berjuang keras membuangnya sehingga dapat kembali melakukan pemulihan. Air terkontaminasi radioaktif telah dialirkan atau dibuang beberapa kali ke Samudra Pasifik, dan grup lingkungan Greenpeace memperingatkan, mereka menemukan level radiasi tidak aman di beberapa spesies laut, sejauh 50 kilometer lepas pantai.

TEPCO sudah menguji peralatan dekontaminasi air yang beberapa di antaranya disediakan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) dan Prancis untuk membuang substansi radioaktif, minyak, dan garam laut dari air tersebut sehingga air itu dapat digunakan kembali sebagai pendingin reaktor pada pertengahan Juni.

Dengan mendekatnya musim panas di kawasan itu, TEPCO juga mulai mengirimkan 370 truk tangki air dengan total kapasitas lebih dari 40.000 ton untuk menyimpan air terkontaminasi radioaktif. TEPCO berharap dapat menghentikan operasi PLTN Fukushima pada Januari meski ada yang meragukan target tersebut. Alasannya, fasilitas nuklir itu masih mengalami kebocoran radiasi.

Lebih dari 80.000 penduduk dalam radius 30 km dari PLTN Fukushima, telah dievakuasi. Kebijakan evakuasi sukarela itu juga diberlakukan di radius 20–30 km dari PLTN. Investigasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA),pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan beberapa kegagalan yang diakui Jepang,terutama untuk mengantisipasi hempasan gelombang tsunami yang melebihi dinding laut dan matinya generator cadangan di PLTN tersebut.

Tidak ada komentar: